FKIP Universitas Riau Gelar Festival dan Seminar Budaya Melayu

PEKANBARU- Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau melalui Bidang Kemahasiswaan menyelenggarakan Festival dan Seminar Budaya Melayu dengan tema “Keberanekaragaman Budaya Melayu menjadi Penyatu Hidup Berbangsa, di Gedung Serbaguna FKIP, Kamis-Sabtu (2-4/11/2017).

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau Prof Dr H M Nur Mustafa MPd langsung hadir membuka secara resmi Festival Budaya Melayu 2017 yang juga dihadiri tiga narasumber masing-masing Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau Datuk Sri H Al Azhar MA, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau diwakili T Zul Efendi, dan Budayawan Riau Prof Dr H Isjoni MSi.

Hadir pula dari pihak FKIP, Wakil Dekan III Dr Mahdum Adnan MPd, Kabag TU Ide Erwina MPd, Kasubag Umum dan Perlengkapan Akademis Asmialis SPd, Kasubag Kemahasiswaan Margaus SPd, Ketua Jurusan PIPS Drs Kamaruddin MSi, Koordinator Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Dr Mangatur Sinaga MHum, Koordinator Program Studi PGSD Hendri Marhadi MPd, Koordinator Program Studi Pendidikan Fisika Dr Fakhruddin MT, Koordinator Program Studi Kimia Abdullah MSi, para Dosen dan Mahasiswa FKIP Universiatas Riau.

Dekan FKIP Universitas Riau Prof Dr HM Nur Mustafa MPd dalam sambutannya menuturkan bahwa orang Riau itu adalah orang Melayu, dan Melayu itu identik dengan Islam. Dengan seminar ini, akan lebih diketahui lebih detil apa sebenarnya yang disebut orang Melayu itu.
Menurut M Nur, dengan seminar ini, akan mampu menjawab keraguan mengenai arti Melayu dan orang Melayu di Riau ini. “Dengan seminar ini, akan diketahui bahwa orang Riau itu adalah orang Melayu dan Melayu itu identik dengan Islam. Oleh sebab, itu mari kita ikuti seminar ini dengan baik,” ungkapnya.
Panitia Festival Budaya Melayu 2017 Dr Mahdum Adnan MPd dalam pengantarnya mengatakan, kegiatan Festival Budaya Melayu 2017 diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan Seminar Budaya Melayu, dilanjutkan dengan kegiatan ekspo yang mewakili Lembaga Kemahasiswaan di lingkungan FKIP Universitas Riau dan perlombaan lagu Melayu.

Narasumber yang hadir, seperti Prof Dr H Isjoni MSi dalam pemaparannya mengungkapkan bahwa Budaya Melayu umumnya, khasnya Melayu Riau, adalah budaya yang terbuka. Keterbukaan itulah yang menyebabkan kebudayaan Melayu menjadi majemuk dengan masyarakatnya yang majemuk pula.
Kemajemukan inilah sebagai salah satu khasanah budaya Melayu yang tangguh, serta sarat dengan keberagaman. Karenanya, orang mengatakan bahwa budaya Melayu bagaikan pelangi atau taman bunga yang penuh warna warni, indah dan memukau. Satu khasanah budaya Melayu yang paling sarat dengan nilai-nilai utama sebagai “jatidiri” kemelayuan itu adalah adat istiadatnya atau dikatakan “adat resam”.
“Melalui proses keterbukaan itu pula adat resam Melayu menjadi kaya dengan variasi, sarat dengan simbol (lambang) dan falsafah. Kekayaan khasanah nilai itu dapat disimak antara lain dari keberagaman alat dan kelengkapan upacara adat, permainan rakyat, pakaian pakaian adat, dari bentuk dan ragam hias rumah, arsitektur, dari alat dan kelengkapan rumah tangga, dari upacara-upacara adat dan tradisi, dari ungkapan-ungkapan adat (pepatah petitih, bidal, ibarat, perumpamaan, pantun, gurindam, seloka, syair dll), yang mereka warisi turun temurun,” ungkap Isjoni.

Sementara, Al Azhar dalam pemaparannya lebih menyangkut hal-hal yang praktis, seperti bagaimana bertutur bahasa dalam Budaya Melayu, cara berpakaian dan lainnya. “Bahasa melayu itu, cermin budi pekerti dan cara berpakaiannya dikurung oleh syara’, dikungkung oleh Adat itulah pakaian Melayu” ungkapnya.

copyright: riauposting.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *